Peribahasa Adalah

Diposting pada

Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Peribahasa? Mungkin anda pernah mendengar kata Peribahasa? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, pengertian menurut para ahli, ciri, jenis, karakteristik, kategori, fungsi dan contoh. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Peribahasa: Pengertian, Ciri, Jenis dan Contoh Peribahasa

Pengertian Peribahasa

Peribahasa ialah himpunan kata ataupun kalimat yang memberitahukan tujuan, kondisi individu atau situasi yang menyampaikan perihal, kegiatan, sikap ataupun situasi perihal individu. Peribahasa bisa juga didefinisikan menjadi kata majemuk yang tidak terang-terangan, tetapi implisit memberikan suatu perihal yang dapat diasumsi para pembaca.


Pengertian Pribahasa Menurut Para ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian pribahasa menurut para ahli yaitu:

1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Peribahasa diartikan sebagai kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, perumpamaan).


2. Menurut Depdikbud (1993:755)

Mendefinisikan peribahasa sebagai ungkapan atau kalimatkalimat ringkas dan padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku yang menjadi salah satu gudang kebijaksanaan lokal (local wisdom) bagi suatu masyarakat.


3. Menurut Kridalaksana (2009:193)

Mendefinisikan bahwa perumpamaan merupakan peribahasa yang berisi perbandingan yang tersusun dari maksud (sesuatu yang tidak diungkapkan) dan perbandingan (sesuatu yang diungkapkan).


4. Menurut Lukman Ali (1995:755)

Menjelaskan bahwa yang disebut peribahasa adalah kalimat ringkas yang berisi perbandingan, nasihat, prinsip hidup atau tingkah laku.


5. Menurut Haruhiko dalam Dharmayanti ( 1999:10)

Mendefinisikan peribahasa sebagai suatu kalimat yang disebarluaskan melalui adat kebiasaan dalam masyarakat yang isinya mengandung pengajaran, sindiran.

Baca Lainnya :  Sekretaris adalah

Ciri-Ciri Peribahasa

Berikut ini terdapat beberapa ciri ciri dari pribahasa, yakni sebagai berikut:

  • Kata ataupun kalimat yang terdapat pada peribahasa mempunyai pola yang konstan, maksudnya kata atau kalimat dalam peribahasa telah jelas dan tidak bisa diganti.
  • Peribahasa umumnya dipakai dengan peran untuk memperolahkan ataupun mempercantik bahasa.
  • Kata ataupun kalimat yang dipakai umumnya periodik, asik didengar dan mempunyai faedah.
  • Umumnya dibentuk ataupun dibuat menurut ideologi dan perpaduan yang sangat cermat tentang alam dan kejadian yang berlangsung dan berjalan dalam masyarakat.
  • Peribahasa dicipta dengan susunan bahasa yang berisi dan cantik, sehingga peribahasa akan menempel dimulut masyarakat sampai bebuyutan.

Jenis-Jenis Peribahasa

Berikut ini terdapat beberapa jenis jenis dari pribahasa, yakni sebagai berikut:

  • Bidal

Bidal ialah salah satu jenis peribahasa yang menyimpan perumpamaan baik itu insinuasi, kiasan dan juga pendapatnya.


  • Pepatah

Pepatah ialah salah satu jenis peribahasa yang menyimpan ideologi ataupun pemikiran dari orang-orang tua dan umumnya peribahasa tersebut dipakai untuk melumpuhkan lawan bicara.


  • Perumpamaan

Perumpamaan ialah jenis pribahasa yang menyimpan kata-kata yang menyampaikan kondisi individu dengan mengumpulkan pertimbangan dari alam sekeliling dan umumnya disumberi dengan kata bagaikan, jenis, serupa dan macam.


  • Ungkapan

Ungkapan ialah kalimat majas atas kondisi individu yang diungkapkan dengan ungkapan kata.


  • Tamsil

Tamsil ialah kalimat majas yang sering memakai kata tamsil yang berfungsi untuk mengibaratkan suatu keadaan.


  • Semboyan

Semboyan ialah himpunan kata, kalimat ataupun alinea yang dipakai menjadi opini ataupun petunjuk.


Karakteristik Pribahasa

Pribahasa merupakan salah satu jenis tuturan atau ungkapan tradisional. Proverba disebut sebagai teks tradisional karena memperlihatkan ciri-ciri teks tradisional sebagai berikut.

  1. Strukturnya bersifat tetap; artinya urutan antarunsurnya tidak dapat dipermutasikan, dan di antara unsur-unsurnya tidak dapat disisipkan kata atau unsur lain;
  2. Kata-kata pengisi teks tersebut tidak dapat digantikan oleh kata lain; jika kata itu digantikan oleh kata lain maka akan memiliki maksud yang berbeda;
  3. Teks itu harus dianggap sebagai suatu kesatuan. Artinya, salah satu unsurnya tidak dapat diberi penjelas tersendiri. Misalnya proverba ”Advice is cheap” (saran itu murah harganya), Bila diberi penjelas ”very” (sangat) menjadi ”Advice is very cheap” (saran itu sangat murah harganya), maka identitas tuturan tersebut menjadi berubah sama sekali, dan;
  4. Pada umumnya tuturan tetap yang bersifat tradisional bermakna non-literal, idiomatik, kias atau bukan makna yang sebenarnya (Sumarlam, 2006).
Baca Lainnya :  Interaksi Sosial

Folkloris Alan Dundes (dalam Meider, 2004) menyebut bahwa proverba setidak-tidaknya mengandung ”topik” dan ”komen,” dan karena itulah sebuah proverba haruslah terdiri dari minimal dua kata. Untuk proverba yang lebih panjang


Kategori Pribahasa

Berdasarkan proposisinya, Simpson & Speake (1998) membagi Pribahasa ke dalam 3 jenis yaitu:

  • Proverba yang di dalamnya berisi pernyataan abstrak yang menunjukkan kebenaran umum seperti proverba: “Absence makes the heart grow fonder […].”
  • Proverba yang mengandung contoh-contoh berwarna dengan menggunakan observasi spesifik yang dilakukan melalui pengalaman setiap hari untuk memberikan generalisasi seperti contoh “You can take a horse to water, but you can’t make him drink” dan “Don’t put all your eggs in one basket. “
  • Proverba yang memasukkan unsur budaya tertentu atau yang diambil dari cerita rakyat tertentu seperti proverba kesehatan “After dinner rest a while, after supper walk a mile […].” Sebagai tambahan, ada proverba tradisional daerah yang menjelaskan tentang budaya hemat, cuaca dan musim seperti “Red sky at night, shepherd’s delight; red sky in the morning, shepherd’s warning” dan “When the wind is in the east, ‘tis neither good for man nor beast.”

Fungsi dan Penggunaan Pribahasa

Pribahasa digunakan dalam berbagai konteks komunikasi, baik itu sosial, pendidikan dan lainnya dalam bentuk verbal maupun tulisan. Namun dalam konteks tertentu, proverba tidak hanya digunakan untuk menjadi penyampai kebijaksanaan, dan pengungkapan kebenaran yang diturunkan dari generasi ke generasi, namun proverba kadang pula dijadikan sebagai sarana yang jauh lebih serius lagi, seperti ketika proverba disalahgunakan untuk propaganda dari pandangan atau kepercayaan tertentu. Proverba memberikan kontribusi terhadap disebarkannya stereotipe dan prejudice dari beberapa pihak. Dalam banyak kasus, proverba seringkali digunakan dalam pidato politik dan penyebaran propaganda (Röhrich, dalam jamal, 2009).

Baca Lainnya :  Aurora Adalah

Melihat pada penggunaan proverba berdasarkan perspektif yang menggunakannya, maka kebanyakan proverba digunakan untuk mengklasifikasikan, menggambarkan, atau untuk menilai sebuah situasi (Jamal, 2009). Selain itu, proverba juga digunakan untuk mengklaim norma dan prinsip tertentu dengan menekankan pada aspek moral dan rekomendasi etika. Kajian tentang proverba dan pemakaiannya menunjukkan bahwa penggunaan proverba akhir-akhir ini telah mulai berubah dari yang biasanya muncul dalam percakapan sekarang muncul dalam teks tertulis seperti pidato, horoskop, headline surat kabar dan majalah (Jamal, 2009). Sepertinya nampak bahwa penggunaan proverba secara tradisi yaitu lewat media wicara mulai ditinggalkan dan beranjak pada bentuk-bentuk yang lebih unik dan inovatif (Burger dalam Jamal, 2009).


Contoh Peribahasa

Berikut ini terdapat beberapa contoh dari peribahasa, yakni sebagai berikut:

1. Bagai katak dalam tempurung

[Seseorang yang wawasannya kurang luas, bodoh, picik]


2. Karena nila setitik, rusak susu sebelangga

[Hanya karena kesalahan kecil yang nampak tiada artinya seluruh persoalan menjadi kacau dan berantakan]


3. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing

[Pekerjaan yang berat akan terasa ringan apabila dikerjakan bersama-sama]


4. Sepandai-pandai tupai meloncat, jatuh juga

[Tidak ada orang yang sempurna, setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan]


5. Besar pasak daripada tiang

[Besar penegluaran daripada pendapatan]


6. Bagai musuh dalam selimut

[Orang terdekat yang diam-diam berkhianat]


7. Sambil menyelam minum air

[Mengerjakan suatu pekerjaan, dapat pula menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang lain]


8. Bagai bumi dan langit

[Dua hal yang mempunyai perbedaan sangat jauh]


9. Badai pasti berlalu

[Segala penderitaan pasti ada akhirnya]


10. Ada gula ada semut

[Dimana ada kebaikan, pasti ada kejahatan]


Demikian Penjelasan Materi Tentang Pribahasa Adalah: Pengertian, Pengertian Menurut Para Ahli, Ciri, Jenis, Karakteristik, Kategori, Fungsi dan Contoh Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.