Etnosentrisme Menurut Para Ahli: Pengertian, Faktor, Dampak dan Contoh

Diposting pada

Etnosentrisme Menurut Para Ahli: Pengertian, Faktor, Dampak dan Contoh


Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Etnosentrisme? Apakah kalian pernah mendengar istrilah dari Etnosentrisme? Jangan khawatir jika kalian belum pernah mendengarnya, disini PakDosen akan membahas secara rinci tentang pengertian menurut para ahli, faktor, dampak dan contoh. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Etnosentrisme Menurut Para Ahli: Pengertian, Faktor, Dampak dan Contoh

Pengertian Etnosentrisme

Etnosentrisme merupakan pemahaman yang dimiliki oleh seseorang yang berpendapat bahwa budayanya merupakan yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.


Pengertian Etnosentrisme Menurut Para Ahli

Berikut ini terdapat beberapa pendapat dari para ahli mengenai etnosentrisme, yakni sebagai berikut:


  • Menurut Matsumoto

Menurut pendapat dari Matsumoto, Etnosentrisme merupakan kecenderungan untuk melihat dunia hanya melewati perspektif budaya sendiri.


  • Menurut Daft

Menurut pendapat dari Daft, Etnosentrisme merupakan kepercayaan bahwa semua kelompok, semua budaya dan subkultur pada hakekatnya sama.


  • Menurut Sumnel

Menurut pendapat dari Sumnel, Etnosentrisme merupakan kecenderungan manusia yang mengikuti naluri biologinya yang mementingkan diri sendiri lebih unggul dari orang lain dan menjadi seorang Individualistik.


  • Menurut Hariyono

Menurut pendapat dari Hariyono, Etnosentrisme merupakan suatu perasaan In group dan Out group dalam suatu dasar sikap yang dijalankan oleh seseorang.


  • Menurut Coleman dan Cressey

Menurut pendapat dari Coleman dan Cressey, Etnosentrisme merupakan seseorang yang berasal dari kelompok etnis yang cenderung melihat budaya mereka sebagai yang terbaik dibandingkan dengan kebudayaan yang lain.

Baca Lainnya :  √WHO: Pengertian, Sejarah, Aktivitas, Fungsi dan Tujuan WHO

Faktor Penyebab Etnosentrisme

Berikut ini terdapat dua faktor penyebab terjadinya etnosentrisme, yakni sebagai berikut:


  • Budaya Politik

Didalam masyarakat diperoleh budaya politik yang mengarah tidak rasional dan tradisional. Maka dari itu masyarakat akan lebih dikuasai oleh sikap subjektif, primordial dan penuh emosional. Jika msayarakat berinteraksi dengan keadaan-keadaan politik, maka akan lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri, baik dari segi agama, suku, etnis dan lain sebagainya.


  • Pluralitas Bangsa Indonesia

Golongan, suku, ras dan agama yang diperoleh di Indonesia akan mudah menyebabkan beberapa perselisihan dan masalah sosial. Kondisi tersebut  dikarenakan keberagaman tersebut akan membuat setiap golongan, suku, ras dan agama masing-masing saling berdaulat dan menguasai satu sama lain.


Dampak Etnosentrisme

Berikut ini terdapat dua dampak etnosentrisme, yakni dampak negatif dan positif antara lain sebagai berikut:


  • Dampak Negatif Etnosentrisme

Berikut ini terdapat beberapa dampak negatif terjadinya etnosentrisme, yakni sebagai berikut:

  1. Menyebabkan terdapatnya perselisihan sosial yang terjadi antar suku dan agama.
  2. Berisi terdapatnya aliran politik.
  3. Membatasi proses integrasi dan asimilasi.
  4. Membatasi ilmu pengetahuan yang objektif.
  5. Membatasi adanya pertukaran budaya.


  • Dampak Positif Etnosentrisme

Berikut ini terdapat beberapa dampak positif terjadinya etnosentrisme, yakni sebagai berikut:

  1. Mengembangkan perilaku semangat patriotisme.
  2. Melindungi kestabilan dan keutuhan budaya.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada bangsanya.

Contoh Etnosentrisme di Indonesia

Salah satu contoh etnosentrisme di Indonesia merupakan perilaku carok dalam masyarakat Madura. Menurut Latief Wiyata, carok adalah tindakan atau upaya pembunuhan yang dilakukan oleh seorang laki-laki apabila harga dirinya merasa terusik. Secara sepintas, konsep carok dianggap sebagai perilaku yang brutal dan tidak masuk akal. Hal itu terjadi apabila konsep carok dinilai dengan pandangan kebudayaan kelompok masyarakat lain yang beranggapan bahwa menyelesaikan masalah dengan menggunakan kekerasan dianggap tidak masuk akal dan tidak manusiawi. Namun, bagi masyarakat Madura, harga diri merupakan konsep yang sakral dan harus selalu dijunjung tinggi dalam masyarakat.

Baca Lainnya :  Keluarga Menurut Para Ahli: Pengertian, Ciri, Fungsi dan Jenis

Oleh karena itu, terjadi perbedaan penafsiran mengenai masalah carok antara masyarakat Madura dan kelompok masyarakat lainnya karena tidak adanya pemahaman atas konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok tersebut dalam masyarakat Madura. Contoh etnosentrisme dalam menilai secara negatif konteks sosial budaya terjadinya perilaku carok dalam masyarakat Madura tersebut telah banyak ditentang oleh para ahli ilmu sosial.

Contoh yang lain adalah kebiasaan memakai koteka bagi masyarakat papua pedalaman. Jika dipandang dari sudut masyarakat yang bukan warga papua pedalaman, memakai koteka mungkin adalah hal yang sangat memalukan. Tapi oleh warga pedalaman papua, memakai koteka dianggap sebagai suatu kewajaran, bahkan dianggap sebagai suatu kebanggaan.


Demikian Penjelasan Materi Tentang Etnosentrisme Menurut Para Ahli: Pengertian, Faktor, Dampak dan Contoh
Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi dan Mahasiswa