Kerajaan Sriwijaya

Diposting pada

Selamat datang di Pakdosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Kerajaan Sriwijaya? Mungkin anda pernah mendengar kata Kerajaan Sriwijaya? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang sejarah, sumber, masa, penyebab, raja, peninggalan dan sistem. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Kerajaan Sriwijaya

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sejak permulaan tarikh masehi, hubungan dagang antara india dengan kepulauan Indonesia sudah ramai. Daerah pantai timur Sumatra menjadi jalur pedagangan yang ramai dikunjungi para pedagang. Kemudian, muncul pusat-pusat perdagangan yang berkembang menjadi pusat kerajaan. Kerajaan-kerajaan kecil dipantai Sumatra bagian timur sekitar abad ke 7, antara lain Tulang bawang, melayu. dan Sriwijaya. Dari ketiga kerajaan itu, yang kemudian berhasil berkembang dan mencapai kejayaan adalah Sriwijaya. Kerajaan melayu juga sempat berkembang, dengan pusatnya di jambi.


Pada tahun 692 M, Sriwijaya mengadakan ekspanis ke daerah sekitar Melayu. Melayu dapat ditaklukan dan berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Letak pusat kerajaan Sriwijaya ada berbagai pendapat. Ada yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya di palembang, ada yang berpendapat di jambi, bahkan ada yang berpendapat di luar Indonesia. Akan tetapi, pendapat yang banyak didukung oleh para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya berlokasi di palembang, di dekat pantai dan tepi sungai Musi. Ketika pusat Kerajaan Sriwijaya di palembang mulai menunjukan kemunduran, Sriwijaya berpindah ke jambi.


Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya yang penting adalah prasasti. Prasasti-prasasti itu ditulis dengan huruf pallawa. Bahasa yang dipakai Melayu Kuno. Beberapa prasasti itu diantara lain sebagai berikut.

1. Prasasti Kedukan Bukti

Prasasti kedukan bukti ditemukan di tempi sungai tatang, dekat palembang. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka [684 M]. Isinya antara lain menerangkan behwa seorang bernama Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci [Siddhayatra] dengan menggunakan perahu. Ia berangkat dari Minangatwan dengan membawa tentara 20.000 personel.


2. Prasasti Talang Tuo

prasasti talang tuo ditemukan di sebelah barat kota palembang di daerah talang tuo. Prasasti ini berangka tahun 606 saka [684 M]. isinya menyebutkan tentang pembangunan sebuah teman yang disebut Sriksetra. Taman ini dibuat oleh Dapunta Hyang Sri jayanaga.


3. Prasasti Telaga Batu

Prasasti telaga batu ditemukan di palembang. Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya terutama tentang kutukan-kutukan yang menakutan bagi mereka yang berbuat kejahatan.


4. Prasasti Kota Kapur

Prasasti kota kapur ditemukan di pulau bangka, berangka tahun 608 Saka [656 M]. Isinya terutama permintaan kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya, dan menghukum  setiap orang yang bermaksud jahat.


5. Prasasti Karang Berahi

Prasasti karang berahi ditemukan di jambi, berangka tahun 608 saka[ 686 M]. Isinya sama dengan isi prasasti kota kapur. Beberapa prasasti yang lain, yakni prasastiligor berangka tahun 775 M ditemukan di ligor, Semenanjung Melayu, dan prasasti Nalada di india timur. Di sampaing prasasti-prasasti tersebut, berita cihina juga merupakan sumber sejarah Sriwijaya yang penting. Misalnya berita dari I-tsing, yang pernah tinggal di Sriwijaya.


Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Ada beberapa faktor yang mendorong perkembangan Sriwiwjaya antara lain:

  1. Letak gegrafis dari kota palembang. Palembang sebagai pusat pemerintahan terletak  di tepi Sungai Musi. Di depan muara Sungai Musi terdapat pulau-pulau yang berfungsi ebgai pelindung pelabuhan di muara Sungai Musi. Keadaan seperti ini sangat tempat untuk kegiatan pemerintahan dan pertahanan. Kondisi itu pula menjadikan Sriwijaya sebagai jalur perdagangan internasional dari india ke china, atau sebaliknya. Juga kondisi sungai-sungai yang besar, perairan laut yang cukup tenag, serta penduduknya yang berbakat sebagai pelaut ulung.
  2. Runtuhnya Kerajaan Funan di vietna akibat serangan kamboja. hal ini telah memberi kesempatan Sriwijaya untuk cepat berkembang sebagi negara maritim.

Berikut ini terdapat beberapa masa kejayaan kerajaan sriwijaya berbagai bidang, yakni sebagai berikut:

  • Bidang Politik dan Pemerintahan

Kerajaan Sriwijaya mulai berkembang pada abad ke-7 M. Pada awal perkembangnya, raja disebut dengan Daputa hyang. Dalam prasasti kedukaan bukti dan talang tuo telah ditulis sebutan Daputa Hyang. pada abad ke-7, Daputa Hyang banyak melakukan usaha perluasan daerah.

Daerah-daerah yang berhasil dikuasai antara lain sebagai berikut.

  • Tulang-Bawang yang terletak di daerah lampung.
  • Daerah kedah yang terletak di pantai barat semenanjung Melayu. Daerah ini sangat penting artinya bagi usaha pengembangan perdagangan dengan india. Menurut I-tsing, penaklukan Sriwijaya atas kedah berlangsung antara tahun 682-685 M.
  • Pulaw bangka yang terletak di pertemuan jalan perdagangan internasional, merupakan daerah yang sangat penting. Daerah ini dapat dikuasai Sriwijaya pada tahun 686 M berdasarkan prasasti kota kapur. Sriwijaya juga diceritakan berusaha menaklukan bhumi java yang tidak setia kepada Sriwijaya. Bhumi java yang dimaksud adalah jawa, khususnya jawa bagian barat.
  • Daerah jawa terletak di tepi Sungai Batanghari. Daerah ini memiliki kedudukan yang penting, terutama untuk mempelancar perdagangan di pantai timur sumatra. Penaklukan ini dilaksanakan kira- kira tahun 686 M [parasasti karang Berahi].
  • Tanah Genting kra merupakan tanah genting bagian utara Semenanjung Melayu. kedudukan tanah Genting kra sangat penting. Jarak antara pantai barat dan pantai timur di tanah genting sangat dekat, sehingga para pedagangan dari china berlabuh dahulu di pantai timur membongkar barang daganganya untuk diangkut dengan pedati ke pantai barat. Kemudian mereka berlayar ke india. Pengusahan Sriwijaya atas tanah Genting kra dapat diketahui dari prasasti ligor yang berangka tahun 775 M.
  • Kerajaan kalingga dan mataram Kuno. Menurut berita china, diterangkan adanya serangan dari barat, sehingga mendesak kerajaan kalingga pindah ke sebelah timur. Diduga yang melakukan serangan adalah Sriwijaya. Sriwijaya inigin menguasai jawa bagian tengah karena pantai utara jawa bagian tengah juga merupakan jalur perdagangan yang penting.
Baca Lainnya :  √Lembaga Ekonomi: Pengertian, Ciri, Peran, Unsur dan Tujuannya

Sriwijaya terus melakukan perluasan daerah, sengga Sriwijaya menjadi kerajaan yang besar. Untuk lebih memperkuat pertahanya, pada tahun 775 M dibangunlah sebuah pangkalan di daerah ligor. Waktu itu menjadi raja adalah Darmasetra. Raja yang terkenal dari kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa. Ia memerintah sekitar abad ke-9 M. Pada masa pemerintahanya, Sriwijaya berkembang pesat dan mencapai zaman keemasan. Balaputradewa adalah keturunan dari Dinasti Syailendra, yakni putra dari raja Samaratungga dengan dewi Tara dari Sriwijaya . Hal tersebut diterangkan dalam prasasti Nalanda. Balaputradewa adalah seorang raja yang besar di sriwijaya . Raja Balaputradewa menjalin hubungan erat dengan kerajaaan Benggala yang saat itu diperintah oleh raja Dewapaladewa.


Raja ini menghadiakan sebidang tanah kepada balaputradewa untuk pendirian sebuah asrama bagi pala pelajar dan siswa yang edang belajar di Nalanda , yang dibiayai oleh Balaputradewa, sebagai ”dharma”. Hal itu tercatat dengan baik dalam prasasti Nalanda, yang saat ini berada diUniversitas nawa Nalanda, India. Bahkan bentuk asrama itu mempunyai kesamaan arsitektur dengan candi Muara jambi, yang berada di propinsi Jambi saat ini. Hal tersebut menandakan Sriwijaya memperhatikan ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama Buddha dan bahasa Sanskerta bagi generasi mudanya. Pada tahun 990 M yang menjadi Raja Sriwijaya adalah Srisudamaniwarmadewa. Pada masa pemerintahan raja itu terjadi serangan raja Darmawangsa dari jawa bagian timur.


Akan tetapi, serangan itu berhasil digagalkan oleh tentara sriwijaya .Srisudamaniwarmadewa kemudian digantikan olehb putranya yang bernama Marawijayayottunggawarman. Sriwijaya membina hubungan dengan Raja Rajaraya l dari Colamandala. Pada masa itu, Sriwijaya terus mempertahankan kebesarannya. Pada masa kejayaannya, wilayah kekuasaan Sriwijaya cukup luas. Daerah-derah kekuasaaannya antara lain Sumatra dan pulau-pulau sekitar jawa bagian barat, sebagian jawa bagian tengah, sebagian Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan hampir seluruh perairan Nusantara. Bahkan Muhammad Yamin menyebutkan Sriwijaya sebagian negara nasional yang pertama. Untuk mengurus setiap dearah kekuasaan Sriwijaya, dipercayakan kepada seorang Rakryan (wakil raja di daerah). Dalam hal ini Sriwijaya sudah mengenal struktur pemerintahan.


  • Bidang Ekonomi

pada mulanya penduduk Sriwijaya hidup dengan bertani. Akan tetapi karena sriwijaya terletak di tepi sungai Musi dekat pantai, maka perdagangan menjadi cepat perkembangan. Perdagangan kemudian menjadi mata pencaharian pokok. Perkembangan perdagangan didukung oleh keadaan dan letak Sriwijaya yang strategis. Sriwijaya terletak di persimpangan jalan perdagangan internasional. Para pedagang cina yang akan ke india singgih dahulu di Sriwijaya, begitu juga para pedagang dan india yang akan ke cina. Di Sriwijaya para pedagang melakukan bongkar maut barang dagangan. Dengan demikian, Sriwijaya semangkin ramai dan berkembang menjadi pusat perdagangan. Sriwijaya mulai menguasai perdagangan nasional maupunn internasional di kawasan perairan Asia tenggara. Perairan di laut Natuna, Selat malaka, Selat Sunda, dan laut jawa berada di bawah kekuasaan Sriwijaya.


TampilanyaSriwijaya sebagai pusat perdagangan, memberikan kemakmuran bagi rakyat dan negara Sriwijaya. Kapal-kapal yang singgih dan melakukan bongkar maut, harus membayar pajak. Dalam kegiatan perdagangan, Sriwijaya mengekspor gading, kulit, dan beberapa jenis binatang liar, sedangkan barangimpornya antara lain beras, rempah-rempah, kayu manis, kemeyan, emas, gading, dan binatang. Perkembangan perdagangan tersebut telah memperkuat kedudukan Sriwijaya sebagai kerajaan martim. Kerajaan maritim adalah kerajaan yang mengandalkan perekonomianya dari kegiatan perdagangan dan hasil-hasil laut. Untuk memperkuat kedudukanya, Sriwijaya membentuk armada angkatan laut yang kuat. Melalui armada angkatan laut yang kuat sriwijaya mampu mengawasi perairan nusantara. Hal ini sekaligus merupakan jaminan keamanan bagi para pedagang yang ingin berdagang dan berlayar di wilayah perairan Sriwijaya.


Kehidupan beragama di Sriwijaya sangat semarak. bahkan Sriwijaya menjadi pusat agama budha mahayana di seluruh wilayah Asia tenggara. Diceritakan oleh I-tsing, bahwa di Sriwijaya tinggal ribuan pendetan dan pelajar agama budha. Salah seorang pendeta budha yang terkenal adalah Sakyakirti. Banyak pelajar asing yang datang ke Sriwijaya untuk nelajar bahasa Sanskerta. Kemudian mereka belajar agama budha di nalada, india. Antara tahun 1011-1023 datang seorang pendeta agama budha dari tibet bernama Atisa untuk lebih memperdalam pengetahuan agama budha. Dalam kaitanya dengan perkembangan agama dan kebudayaan budha, di sriwijaya ditemukan beberapa peninggalan. Misalnya, candi muara takus, yang ditemukan dekat sungai kampar di daerah riau. Kemudian di daerah Bukit Siguntang ditemukan arca budha. Pada tahun 1006 Sriwijaya juga telah membangun whara sebagai tempat suci agam budha di nagipatanna, india selatan. Hubungan Sriwijaya dengan india selatan itu sangan erat. Bangunan lain yang sangat penting adalah biaro bahal yang ada di padang lawas, tapanuli selatan. Di tempat ini pula terdapat pembangunan wihara.

Baca Lainnya :  √Adaptasi: Pengertian, Macam, Contoh Serta Tujuan Adaptasi

Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Kerajan Sriwijaya akhirnya mengalami kemunduran karena beberapa hal antara lain.

  • Keadaan sekitar Sriwijaya berubah, tidak lagi dekat dengan pantai. Hal ini disebabkan aliran sungai Musi, ogan, danKomering banyak membawa lumpur. Akibatnya. Sriwijaya tidak baik untuk berdagangan.
  • banyak daerah kekuasaan Sriwijaya yang melepaskan diri. Hal ini disebabkan terutama karena melemahnya angkatanlaut sriwijaya, sehingga pengawasan semakin sulit.
  • Dari segi politik, beberapa kali Sriwijaya mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain. Tahun 1017 M Sriwijaya mendapat serangan dari Raja Rajendracola dari Colamandala, namun sriwijaya masih dapat bertahan. tahun 1025 serangan itu diulangi, sehingga Raja sriwijaya, Srisanggramawijayattunggawarman ditahan oleh pihak kerajaan Colamandala. Tahun 1275, raja kertanegara dari singhasari melakukan Ekspedisi pamalayu. Hal itu menyebabkan daerah melayu lepas. Tahun 1377 armanda angkutan laut majapahit menyerang Sriwijaya. Serangan ini mengakhiri riwayat kerajaan Sriwijaya.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Berikut ini adalah beberapa penyebab runtuhnya kerajaan sriwijaya yakni sebagai berikut:

1. Tidak adanya raja yang bisa memerintah dengan cakap

Maju dan mundurnya sebuah kerajaan sangat dipengaruhi oleh kecakapan dari pemimpinnya. Bila pemimpinnya cakap, maka sebuah kerajaan niscaya akan mengalami kejayaan. Dan sebaliknya, kalau pemimpinnya kurang cakap, maka suatu kerajaan niscaya akan mencapai kemunduran dan keruntuhan. Hal ini juga berlaku dan terjadi dalam sejarah kerajaan Sriwijaya di masa silam. Sesudah wafatnya raja Balaputradewa pada tahun 835 M, tidak ada lagi sosok raja yang bisa memimpin Sriwijaya dengan cakap dan bijaksana. Hal ini secara berangsur-angsur mengakibatkan dogma masyarakat terhadap kepemimpinan raja-raja yang berkuasa semakin lemah dan membuat imbas domino lain ibarat perjuangan pemberontakan yang terjadi, serangan dari kerajaan lain,dan lain sebagainya.

2. Letak Kota Palembang semakin jauh dari laut

Selain lantaran efek pemimpin yang kurang cakap, runtuhnya kerajaan Sriwijaya juga dipengaruhi oleh faktor letak kota Palembang sebagai sentra perdagangan yang semakin menjauh dari laut. Pengendapan lumpur yang terjadi di muara Sungai Musi mengakibatkan pendangkalan dasar sungai semakin cepat. Sungai yang dangkal mengakibatkan kapal-kapal dagang tak bisa lagi singgah untuk melaksanakan aktivitas perdagangan di sentra kota. Secara tidak eksklusif hal ini membuat pendapatan kerajaan dari pajak jadi menurun. Padahal, pajak dari para pedagang itulah yang menjadi salah satu sumber pendapatan bagi kerajaan untuk menjalankan roda pemerintahan.


3. Banyak wilayah kekuasaan yang melepaskan diri

Faktor lemahnya perekonomian lantaran menipisnya pendapatan pajak serta faktor pemimpin kerajaan yang tidak cakap membuat wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya berusaha melepaskan diri. Kontrol dan kekuatan militer yang lemah mengakibatkan wilayah-wilayah taklukan mendirikan kerajaannya sendiri. Lepasnya wilayah kekuasaan ibarat wilayah Pahang, Jambi, Kelantan, Sunda, Dan Ligor. membuat keadaan ekonomi kerajaan semakin parah. Pasalnya. setoran pajak yang biasanya didiberikan wilayah-wilayah tersebut tidak lagi ada.


4. Terjadinya serangan dari kerajaan lain

Selain lantaran faktor internal, runtuhnya kerajaan Sriwijaya juga dipengaruhi oleh faktor eksternal yang berupa serangan-serangan dari kerajaan lain di sekitarnya. Berikut ini yaitu beberapa serangan yang dialami kerajaan Sriwijaya tersebut:

  1. Serangan pada tahun 992 dari Kerajaan Medang yang dilakukan Raja Teguh Darmawangsa atas wilayah Sriwijaya selatan.
  2. Serangan pada tahun 1017 dari Kerajaan Colamandala dari India Selatan atas Semenanjung Malaka.
  3. Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1270 yang dilakukan oleh Raja Kertguagara dari Singosari atas wiayah Melayu.
  4. Pendudukan yang dilakukan Kerajaan Majapahit pada tahun 1377 atas seluruh wilayah Sriwijaya. Pendudukan yang dipimpin Adityawarman tersebut dilakukan atas perintah Gadjah Mada dalam upaya mewujudkan kesatuan Nusantara.

5. Berkembangnya efek Islam

Di pertengahan masa 12 Masehi, efek Islam semakin berkembang di Nusantara. Beberapa kerajaan bercorak Islam ibarat Malaka, Samudera Pasai, dan Kerajaan Aceh mulai menguasai sebagian wilayah Sriwijaya. Pada kesannya hal ini semakin membuat kerajaan Sriwijaya tak berdaya terhadap perkembangan zaman.


Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya

Berikut ini adalah nama-nama raja kerajaan sriwijaya yakni sebagai berikut:

  1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa
  2. Sri Indravarman
  3. Rudra Vikraman
  4. Maharaja WisnuDharmmatunggadewa
  5. Dharanindra Sanggramadhananjaya
  6. Samaragrawira
  7. Samaratungga
  8. Balaputradewa
  9. Sri UdayadityavarmanSe-li-hou-ta-hia-li-tan
  10. Hie-tche (Haji)
  11. Sri CudamanivarmadevaSe-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa
  12. Sri MaravijayottunggaSe-li-ma-la-pi
  13. Sumatrabhumi
  14. Sangramavijayottungga
  15. Rajendra Dewa KulottunggaTi-hua-ka-lo
  16. Rajendra II
  17. Rajendra III
  18. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa
  19. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa
  20. Srimat Sri Udayadityawarma Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa.

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya meninggalkan beberapa prasasti, diantaranya :

  • Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit

Prasati ini ditemukan di Palembang pada tahun 605 SM/683 M. Isi dari prasasti tersebut yakni ekspansi 8 hari yang dilakukan Dapunta Hyang dengan 20.000 tentara yang berhasil menaklukkan beberapa daerah sehingga Sriwijaya menjadi makmur.

Baca Lainnya :  Koperasi adalah

  • Prasasti Talang Tuo

Prasasti Talang Tuwo

Prasasti yang ditemukan pada tahun 606 SM/684 M ini ditemukan di sebelah barat Palembang. Isinya tentang Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang membuat Taman Sriksetra demi kemakmuran semua makhluk.


  • Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur

Prasasti ini bertuliskan tahun 608 SM/686 M yang ditemukan di Bangka. Isiny mengenai permohonan kepada Dewa untuk keselamatan Kerajaan Sriwijaya beserta rakyatnya.


  • Prasasti Karang Birahi

Prasasti yang ditemukan di Jambi ini isinya sama dengan prasasti Kota Kapur tentang permohonan keselamatan. Prasasti Karang Birahi ditemukan pada tahun 608 SM/686 M.


  • Prasasti Talaga Batu

Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini ditemukan di Palembang, namun tidak ada angka tahunnya. Prasasti Talaga Batu berisi tentang kutukan terhadap pelaku kejahatan dan pelanggar perintah raja.


  • Prasasti Palas di Pasemah

Prasasti Palas Pasemah

Prasasti ini juga tidak berangka tahun. Ditemukan di Lampung Selatan yang berisi tentang keberhasilan Sriwijaya menduduki Lampung Selatan.


  • Prasasti Ligor

Prasasti Ligor

Ditemukan pada tahun 679 SM/775 M di tanah genting Kra. Menceritakan bahwa Sriwijaya di bawah kekuasaan Darmaseta.


Sistem Pemerintahan Kerajaan Sriwijaya

Wilayah Sriwijaya ternyata membutuhkan pengawasan yang ekstra karena luasnya kekuasaan kerajaan ini. Untuk menjaga eksistensi kekuasaan, Raja Sriwijaya menerapkan beberapa kebijakan, misalnya saja dalam beberapa prasasti dituliskan tentang kutukan bagi siapa saja yang tidak taat pada raja, seperti dalam Prasasti Telaga Batu Kota Kapur. Fungsi ancaman (kutukan) ini semata-mata untuk menjaga eksistensi kekuasaan seorang raja terhadap daerah taklukannya (Marwati & Nugroho, 1993:71). Selain kutukan, terdapat pula prasasti yang menjanjikan hadiah berupa kebahagiaan terhadap siapa saja yang tunduk terhadap Sriwijaya, seperti yang tertulis pada Prasasti Kota Kapur.

Selain berisi kutukan, Prasasti Telaga Batu juga memuat tentang penyusunan ketatanegaraan Sriwijaya, seperti misalnya /yuvaraja /(putra mahkota), /pratiyuvaraja /(putra raja kedua), /rajakumara /(putra raja ketiga), /rajaputra /(putra raja keempat), /bhupati /(bupati), /senapati /(pemimpin pasukan), /nayaka, pratyaya, haji pratyaya /(orang kepercayaan raja?), /dandanayaka /(hakim), /tuha an vatak vuruh /(pengawas kelompok pekerja), /addhyaksi nijavarna, vasikarana /(pembuat pisau), /kayastha/ (juru tulis), /sthapaka /(pemahat), /puhavam /(nakhoda kapal), /vaniyaga, pratisara, marsi haji, hulunhaji /(saudagar, pemimpin, tukang cuci, budak raja), /datu, /dan /kadatuan/ (Marwati & Nugroho, 1993:57).


Secara struktural, Raja Sriwijaya memerintah secara langsung terhadap seluruh wilayah kekuasaan (taklukan). Di beberapa daerah taklukan ditempatkan pula wakil raja sebagai penguasa daerah. Wakil raja ini biasanya masih keturunan dari raja yang memimpin. Maka masuk akal jika dijumpai pula prasasti yang berisi kutukan untuk anggota keluarga kerajaan. Maksud dari kutukan ini adalah untuk menunjukkan sikap keras dari raja yang berkuasa, sekaligus suatu sikap dari raja yang tidak menghendaki kebebasan bertindak yang terlalu besar pada penguasa daerah (Marwati & Nugroho, 1993:72). Sikap semacam ini sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi kekuasaan seorang raja sebagai penguasa tertinggi di Sriwijaya. Sikap ini juga sekaligus dilakukan untuk meredam upaya kudeta yang mungkin terjadi pada penguasa daerah, meskipun para penguasa tersebut masih keluarga ataupun keturunan raja.


Kontrol kekuasaan juga dilakukan melalui kekuatan militer. Sebagimana disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit, Dapunta Hyang Sri Jayanaga memimpin pasukan sebanyak 20.000 tentara untuk menaklukkan daerah /Ma-ta-dja /(?), yaitu sebuah daerah yang sampai sekarang masih menjadi perdebatan para ahli, di antaranya Coedes dan N.J. Krom (Slamet, 2006:137).  Jumlah 20.000 tentara pada abad ke-7 tentu saja akan bertambah berkali lipat ketika Sriwijaya sanggup meluaskan daerah taklukkan sampai ke Asia Tenggara. Kontrol wilayah juga bisa dilakukan dengan pengerahan pasukan apabila diketahui ada penguasa wilayah yang tidak tunduk terhadap Raja Sriwijaya.


Di sisi lain, Sriwijaya juga mengadakan hubungan diplomasi dengan Tiongkok, India, dan Cola. Seperti dikutip dalam buku /Sriwijaya /(1996), hubungan diplomasi dengan jalan pengutusan antara Sriwijaya dengan Tiongkok pertama kali terjadi pada 713 M dan 714 M. Pengiriman utusan selanjutnya dilakukan pada 960 M, 962 M, 980 M, dan 983 M. Pada 992 M datang kabar dari Kanton bahwa Sriwijaya sedang diserang tentara dari Jawa. Utusan yang telah terlanjur berada di Tiongkok kemudian berangkat ke Campa akan tetapi keberangkatan ke Sriwijaya dari Campa terpaksa dibatalkan karena peperangan kembali berkobar di Sriwijaya. Atas terjadinya peperangan ini, utusan Sriwijaya akhirnya kembali ke Tiongkok dan meminta kepada Kaisar Tiongkok untuk menyatakan bahwa
Sriwijaya berada dibawah perlindungan Tiongkok. Utusan kembali dikirimkan oleh Sriwijaya pada 1003 (Slamet, 1996 :271-272).


Pada 1008 Raja Se-li-ma-la-pi (Sri Marawi, yaitu Marawijaya) mengirimkan tiga utusan untuk mempersembahkan upeti kepada kaisar Tiongkok (Slamet, 1996:272). Beberapa uraian di atas menjelaskan bahwa telah terjadi hubungan segitiga antara Sriwijaya-Tiongkok-India  (yang diwakili oleh Marawijaya). Hubungan ini semata-mata dilakukan oleh Sriwijaya karena usaha penggalangan kekuatan dalam menghadapi serangan dari luar, misalnya saja ketika Sriwijaya mendapat serangan dari Jawa pada 992 M.


Demikian Penjelasan Materi Tentang Kerajaan Sriwijaya: Sejarah, Sumber, Masa, Penyebab, Raja, Peninggalan dan Sistem Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.