Hujan Es

Diposting pada

Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Hujan Es? Mungkin anda pernah mendengar kata Hujan Es? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, ciri, proses, faktor, fakta, gejala, tahapan, dampak, perbedaan, tanda dan kesimpulan. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Hujan Es: Pengertian, Proses, Faktor, Fakta Serta Gejala Hujan Es

Pengertian Hujan Es

Hujan es merupakan presipitasi yang terdiri dari bongkahan es yang berbentuk seperti bola. Salah satu penciptaan dari bola es tersebut ialah melewati pengembunan uap air melalui prosedur pendinginan di area atmosfer pada sebuah susunan yang diperoleh di atas level membeku. Umumnya hanya es yang berdiameter besar saja yang berlangsung dengan prosedur seperti ini. Karena diameternya yang cukup besar, sehingga kendati es telah turun ke temperatur yang lebih hangat dan kawasan lebih rendah, tidak semua es tesebut menjadi mencair.


Ciri-Ciri Terjadinya Hujan Es

Berikut ini adalah ciri-ciri hujan es yaitu:

Hujan es dan angin puting beliung merupakan fenomena alam yang jarang sekali terjadi di Indonesia, hanya sekejap 3-5 menit dan bersifat lokal di area yang tidak luas sekitar 5km2 saja. “Jadi hujan es atau angin puting beliung susulan itu tak ada. Kalau kondisi cuaca yang menyebabkan kejadian tersebut yaitu awan tebal dan rendah sudah kembali terbentuk, baru kejadian itu bisa ada lagi,” kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Ahmad Zakir di Jakarta, Rabu. Hujan es sebesar batu-batu kerikil terjadi lagi di Bekasi minggu lalu dan membuat atap rumah-rumah warga pecah dan bocor, sehingga kini warga setempat sibuk memperbaiki atap rumah masing-masing. Hujan es sebelumnya terjadi pada Desember 2005 di Bekasi dan Jakarta Timur disertai angin puting beliung yang membuat ratusan pohon tumbang.


Hujan es, ujarnya, jatuh dari sekumpulan awan yang ketebalannya mencapai 25 ribu kaki dan sangat dekat dengan permukaan bumi yakni sekitar 300 meter. Di dalam awan itu ada tekanan yang sangat tinggi dan suhu udara yang sangat rendah, membuat butiran air di tengahnya menjadi es. Ketika titik jenuhnya sudah sampai klimaks dan karena gaya gravitasi bumi, butiran itupun jatuh. Awan yang menghasilkan butiran es sebesar biji jagung hingga kerikil itu, ujarnya, bisa menjadi sangat tebal karena kondisi udara yang labil ketika awan tumbuh. Awan yang menghasilkan hujan es dan puting beliung adalah awan yang tumbuhnya vertikal, mengumpulkan uap air sambil bergerak ke atas, sehingga ketika jatuh pun sifatnya sangat lokal, sekejap dan mengejutkan. Berbeda dengan awan yang bergeraknya horisontal, menurut dia, akan menghasilkan hujan yang jatuhnya merata dan berlangsung dalam waktu lama.


Hujan es itu terjadi karena awan pembawa hujannya sangat tebal dan berasal dari tempat yang sangat tinggi. awan itu terdorong ke tempat yang tinggi sekali oleh udara yang sangat kuat. suhu udaranya bisa mencapai -40 derajat C. Dingin sekali. Sehingga uap air di awanpun membeku. saat awannya tidak kuat menahan beban esnya, es itu akan turun jadi hujan perjalanannya menuju bumi sangatlah panjang. itulah yang menyebabkan pecahan2 batu esnya mencair sedikit demi sedikit dan karena melewati daerah yang suhu udaranya yang berubah memanas, di banding tempat asalnya. sebenarnya es batu yang turun itu besar2. di negara barat ada yang berdiameter mencapai 18 cm dan karena di daerah kita mempunyai suhu yang panas, jadi esnya semakin mencair dan mengecil. Sementara suhu udara di daerah negara barat cukup dingin. sehingga esnya masih lebih bisa bertahan.

Baca Lainnya :  Ideologi adalah

“mengapa tidak selalu ada hujan es??”

jawabnya adalah “karena tidak semua awan penyebab hujan berasal dari tempat yang sangat tinggi. sehingga tidak ada proses pembekuan menjadi es.S alah satu penyebab terjadinya hujan es itu adalah udara yang cukup lembab. Hujan es ini tidak boleh di minum. karena uap air yang membeku menjadi es itu, kemungkinan sudah tercampur dengan kuman dan binatang2 yang sangat kecil. di tambah debu di udara. pernah ada ahli yang meneliti hal ini, hasilnya di dalam batu es itu di temukan kuman2 yang sangat kecil dan hanya dapat di lihat dengan mikroskop.


Proses Terjadinya Hujan Es

Berikut ini terdapat beberapa proses terjadinya hujan es, yakni sebagai berikut:

  • Air yang banyak tersebut terkandung dalam satu tempat yang disebut samudera, laut, sungai, danau dan rawa. Lalu air tersebut akan menghadapi penangasan melewati perantara sinar matahari. Termasuk juga dengan air yang berada di permukaan tanah.
  • Proses penguapan air tersebut disebut dengan transpirasi. Uap air yang diperoleh dari penangasan tersebut akan penangasan kompresi yang lalu menjadi awan. Setalh itu awan tersebut beranjak ke lokasi berganti-ganti dengan bantuan angin, baik angin yang bertiup lurus maupun melintang.
  • Kemudian awan yang berisi uap air tersebut berhempus dan tibalah pada lokasi yang temperaturnya lebih dingin dan sampai ke titik embun, kemudian titik embun tersebut terjadinya titik hujan.
  • Apabila sudah mengembun, telah menjadi air dan berhembus oleh angin thermis yang naik, ketinggian yang mempunyai suhu dibawah titik beku, embun tersebut akan berganti menjadi es yang akan jatuh ke bawah permukaan bumi.

Faktor Terjadinya Hujan Es

Apabila kita memperhatikan proses terjadinya hujan air, maka kita akan memahami bahwa hujan air dapat berlangsung karena terbentuknya penangasan air laut yang kemudian menjadi awan yang berisi air dan selanjutnya air tersebut turun menjadi titik air yang disebut hujan. Akan tetapi, apakah kondisi tersebut sama dengan yang mengakibatkan hujan es turun? Ya, kondisi tersebut ternyata tidak sangat berbanding dengan yang mengakibatkan terjadinya hujan es. Salah satu yang mengakibatkan berlangsungya hujan es ialah pengerasan.


Dimana pada keadaan tersebut, uap air melalui dingin terbawa ke permukaan emberio es. Karena berlangsung pengembunan yang tiba-tiba, maka berlangsung pembentukan es dengan diameter yang sangat besar. Sesungguhnya hujan es tersebut tidaklah gejala alam yang abnormal dan langka. Hujan es ini telah acap kali terjadi. Dan berlangsungnya hujan es tersebut dapat saja melanda di kawasan tropis bahkan tidak pada saat musim hujan saja. Butiran es yang jatuh saat hujan es ialah penguapan dari air hujan yang membeku di atas permukaan bumi yang disebut juga dengan awan gelap.


Fakta Terjadinya Hujan Es

Berikut ini terdapat beberapa gejala-gejala terjadinya hujan es, yakni sebagai berikut:

  1. Hujan es yag diikuti dengan angin kencang tersebut umumnya berlangsung pada saat pergantian iklim di Indonesia pada musim kemarau menjadi musim hujan.
  2. Hujan es tersebut lebih terkadang berlangsung pada saat siang maupun sore hari.
  3. Satu hari sebelum hujan es turun, udara pada pagi sampai malam hari mengalami sangat panas dan sesak.
  4. Udara yang terdapat pada di sekeliling kita mulai terasa dingin yang membuat gidik.
  5. Hujan es umumnya saat hujan pertama kali datang ialah hujan yang mendadak deras.
  6. Apabila kita mendengar terdapatnya sambaran petir yang cukup keras, maka dapat tampaknya bahwa hujan lebat diikuti petir dan angin kencang akan berlangsung.
Baca Lainnya :  √Denudasi: Pengertian, Faktor, Proses Serta Dampak Denudasi

Gejala Hujan Es di Indonesia

Telah diuraikan sebelumnya bahwa hujan es tersebut bisa terjadi di kawasan yang dilewati garis ekuator ataupun khatulistiwa, signifikan mempunyai iklim tropis. Salah satunya ialah Indonesia. Hujan es tersebut tidaklah fenomena yang abnormal dan langka di Indonesia. Beberapa hujan es sudah berlangsung di kawasan Indonesia, misalnya Bandung, Banjarnegara, Medan, Madiun, Sumatera Barat dan kawasan lainnya di Indonesia. Hujan es tersebut bisa berlangsung Indonesia karena beberapa faktor, faktornya karena terdapatnya keadaan yang menunjang berlangsungnya hujan es tersebut dapat di kawasan Indonesia. Hujan es tersebut apabila diameternya tidak terlalu besar, sesungguhnya tidak terancam, akan tetapi, apabila hujan yang turun memiliki diameter yang besar seperti bongkahan es, tersebut yang akan mencelakakan.


Tahapan Terbentuknya  Hujan Es

Berikut ini adalah tahapan terbentuknya hujan es yaitu:

Arus udara mendorong awan-awan tersebar ke arah atas. Untuk membentuk es ukuran kecil, diperlukan arus udara dengan kecepatan 45 km/jam, ukuran sedang 88 km/jam dan ukuran besar 160 km/jam. Awan-awan tersebut berharmoni, menumpuk satu sama lainnya hingga membentuk seperti gunung (disebut sebagai awan kumulus) yang tingginya mencapai beberapa kilometer di atmosfer, membentuk tetesan-tetesan air. Benih-benih air yang terkumpul membeku seiring dengan cuaca yang  semakin dingin, turun di bawah 0 derajat. Para ilmuwan mengatakan bahwa proses terbentuknya satu butir es kecil memerlukan waktu sekitar 5-10 menit.


Dan 1 butiran es merupakan perpaduan dari ratusan juta benih air. Terkadang, diameter butiran es itu mencapai 15 cm. Butiran es itu ada yang jatuh sampai ke bumi atau lebur oleh arus udara di awan sebelum sampai ke bumi. Para ilmuwan menyatakan bahwa butiran yang larut dalam udara sekitar 40%-70%. Belakangan, para ilmuwan mengkonfirmasi bahwa arus udara ke atas tidak hanya berfungsi membentuk dingin, tapi juga mendorong puncak tumpukan awan ke lapisan yang troposfer. Itu kemudian menciptakan kondisi yang bepotensi terjadinya petir.


Dampak Terjadinya Hujan Es

Berikut ini adalah dampak terjadinya hujan es yaitu:
Hujan es pernah terjadi di beberapa tempat di negara kita. Dampaknya cukup merusak. Terutama pada atap rumah dan kendaraan yang terparkir atau lalu lalang di jalan. Meskipun, sejauh ini ane belum mengetahui manusia yang dilaporkan cedera akibat hujan es ini. Kecepatan jatuh dari batu es ketika mencapai tanah tergantung dari ukurannya sendiri, batu es dengan diameter 1 cm bisa jatuh dengan kecepatan 9 meter per detik (32 kilometer per jam). Batu es dengan diameter 8 cm , atau kurang lebih sama dengan bola baseball, bisa jatuh dengan kecepatan 48 meter per detik (177 kilometer per jam).


Dahsyat juga ya? Dan jangan lupa, hujan es seperti ini bisa merusak rumah atau mobil, dan melukai manusia. Pesawat terbang juga memiliki resiko terkena hujan es ini, meskipun kemungkinannya kecil karena pesawat biasanya dilengkapi dengan radar cuaca dan penghindaran benturan. Dari kemungkinan yang sangat kecil itu pun masih ada pula pesawat yang mengalami benturan dengan hujan es. Foto pesawat terbang berikut ini tidak diketahui asal usulnya, bisa jadi foto ini berhubungan dengan hujan es, bisa jadi juga tidak… jadi, mohon dicermati lagi.


Perbedaan Hujan Es dan Salju

Berikut ini adalah perbedaan hujan es dan salju yaitu:
Hujan es
Hujan es dapat terbentuk jika puncak badai sangat dingin. Butiran air dapat menjadi sangat dingin hingga suhu dibawah 0 derajat dan kemudian membeku menjadi butiran es di langit. Jika kamu membawa bongkahan es dari hujan es dan membelahnya maka kamu akan melihat lapisan es berlapis-lapis seperti bawang. Butiran es yang jatuh dari langit bervariasi antara 2 mm hingga 20 cm. Ukuran butir es tergantung pada seberapa lama es tersebut dapat diam di atomosfer yang dingin sebelum jatuh ke bumi.

Baca Lainnya :  Haji dan Umrah: Pengertian, Syarat, Rukun, Hukum dan Sunah

Salju
Badai salju dapat terjadi bila suhu udara berada diantara suhu dasar terbentuknya awan dan suhu permukaan bumi harus di bawah 4 derajat celcius. Jika kondisi demikian tidak terjadi maka butiran es akan mencair ketika bergerak di udara menuju permukaan bumi.


Tanda-Tanda Terjadinya Hujan Es

Berikut ini adalah tanda-tanda akan terjadinya hujan es yaitu:

Sebenarnya datangnya hujan es ini bisa kita ketahui melalui tanda-tanda tertentu. Terjadinya hujan es biasanya disertai dengan angin darat kencang atau kadang angin puting beliung. Turunnya hujan es ini dapat diprediksi dari sifat atau keadaan yang berada di sekitar kita. Hal ini menjadi sangat perlu diketahui oleh kita yang sedang berada di luar rumah. Hujan es yag disertai dengan angin kencang ini biasa terjadi pada saat peralihan iklim di Indonesia pada musim kemarau ke musim penghujan. Sehingga pada waktu pancaroba potensi terjadinya hujan es lebih besar jika dibandingkan waktu-waktu yang lainnya. Hujan es ini lebih sering terjadi pada siang atau sore hari. Tetapi tidak menutup kemungkinan hujan es ini terjadi pada malam hari. Hanya saja pada saat siang atau sore hari lebih berpotensi terjadinya hujan es.


Satu hari sebelum hujan es turun, udara pada pagi hingga malam hari terasa sangat panas, dan pengap. Hal ini yang kemungkinan menyebabkan terjadinya penggumpalan awan hingga terbentuk awan yang berlapis-lapis sehingga akan menyebabkan terjadinya hujan es. Apabila sekitar pukul 10.00 terlihat awan yang berlapis lapis atau cumulus, dan di antara awan tersebut terlihat satu jenis awan yang batas tepinya berwarna abu-abu jelas dan menjulang tinggi seperti bunga kol, kemudian awan tersebut berubah warna menjadi hitam gelap dengan durasi yang cepat. Jika terlihat indikasi seperti ini, maka bisa diperkirakan akan terjadi hujan es dan disertai dengan angin kencang. Lihatlah pepohonan yang ada di sekitar kita. Apabila dahan dan rantingnya mulai bergoyang-goyang karena tertiup angin, maka itu tandanya hujan dan angin kencang akan segera tiba. Udara yang ada di sekitar kita mulai terasa dingin hingga membuat merinding.


Hujan es biasanya saat hujan pertama kali turun tiba-tiba deras. Jika hujan yang turun pertama kali dengan gerimis, maka hal itu mengindikasikan bahwa angin sudah menjauh dari tempat kita berada. Jika kita mendengar adanya sambaran petir yang cukup keras, maka ada kemungkinan bahwa hujan lebat disertai petir dan angin kencang akan terjadi. Apabila saat memasuki musim penghujan, 1 hingga 3 hari tidak terjadi hujan, maka kemungkinan hujan pertama kali yang turun adalah hujan yang lebat dan disertai dengan angin kencang. Jika Anda merasa mengalami atau menemui tanda-tanda tersebut, maka Anda perlu waspada terhadap turunnya hujan es yang biasanya disertai dengan angin kencang.


Kesimpulan Hujan Es

Dapat disimpulkan, bahwa proses hujan salju diawali dengan proses Evaporasi/Transpirasi Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk salju, es.