Gerak Refleks

Diposting pada

Selamat datang di Pakdosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Gerak Refleks? Mungkin anda pernah mendengar kata Gerak Refleks? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, macam, komponen, ciri, mekanisme dan penyebab . Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Gerak Refleks

Pengertian Gerak Refleks

Gerak refleks adalah gerak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Penjalaran impuls pada gerak refleks berlangsung cepat, melewati jalur pendek dan tidak melalui otak, tetapi melalui sumsum tulang belakang. Contohnya terangkatnya kaki saat menginjak paku, menutupnya kelopak mata ketika benda asing masuk ke mata, dan gerakan tangan saat memegang benda panas. Hantaran impuls pada gerak refleks mirip eperti pada gerak biasa. Bedanya, impuls pada gerak refleks tidak melalui pengolahan oleh pusat saraf. Neuron di otak hanya berperan sebagai konektor saja. Ada dua macam neuron konektor di otak dan di sumsum tulang belakang. Urutan perjalanan impuls pada gerak refleks secara skematis sebagai berikut.

Skema perjalanan impuls gerak refleks

skema perjalanan implus gerak refleks


Macam-Macam Gerak Refleks

Terdapat dua macam gerak refleks yaitu:

1. Refleks otak

Adalah gerak refleks yang melibatkan saraf perantara yang terletak di otak, misalnya berkedipnya mata, refleks pupil mata karena rangsangan cahaya.


2. Refleks sumsum tulang belakang

Adalah gerak refleks yang melibatkan saraf perantara yang terletak di sumsum tulang belakang, misalnya sentakan lutut karena kaki menginjak batu yang runcing. Gerak refleks sumsum tulang belakang terdiri dari 4 jenis gerak refleks, yaitu : refleks superficial, refleks tendon atau periosteum, refleks patologis, dan yang terakhir refleks primittive.

  • Refleks Superficial ialah gerak refleks yang ditimbukan oleh rangsangan terhadap kulit atau mukosa.
  • Refleks Tendon/ Refleks Periosteum adalah gerak refleks yang terjadi akibat rangsangan yang terjadi pada tendon atau periosteum.
  • Refleks Patologis ialah gerak reflekstorik densitif yang pada orang dewasa diatur dan ditekan oleh aktivitas susunan pyramidal.
  • Refleks Primitif  gerak refleks yang muncul pada saat perkembangan dalam kandungan atausetelah lahir dan biasanya hilang setelah umur bayi 6 bulan.

Komponen Gerak Refleks

Komponen-komponen yang dilalui refleks adalah sebagai berikut :

  1. Reseptor rangsangan sensoris : ujung distal dendrit yang menerima stimulus peka terhadap suatu rangsangan misalnya kulit.
  2. Neuron aferen (sensoris) : melintas sepanjang neuron sensorik sampai ke medula spinalis yang dapat menghantarkan impuls menuju ke susunan saraf pusat.
  3. Neuron eferen (motorik) : melintas sepanjang akson neuron motorik sampai ke efektor yang akan merespon impuls eferen menghantarkan impuls ke perifer sehingga menghasilkan aksi yang khas.
  4. Alat efektor : dapat berupa otot rangka, otot jantung, atau otot polos kelenjar yang merespons, merupakan tempat terjadinya reaksi yang diwakili oleh suatu serat otot atau kelenjar.

Ciri-Ciri Gerak Refleks

Berikut ini adalah ciri-ciri gerak refleks yaitu:

  • Dapat diramalkan jika rangsangannya sama
  • Memiliki tujuan tertentu bagi organisme tersebut
  • Memiliki reseptor tertentu dan terjadi pada efektor tertentu
  • Berlangsung cepat, tergantung pada jumlah sinapsis yang dilalui impuls
  • Spontan, tidak dipelajarai dulu
  • Fungsi sebagai pelindung dan pengatur tingkah laku hewan
  • Respon terus menerus dapat menyebabkan kelelahan
Baca Lainnya :  Konjungsi adalah

Mekanisme Gerak Refleks

Mekanisme gerak refleks merupakan suatu gerakan yang terjadi secara tiba-tiba diluar kesadaran kita. Refleks fleksor, penarikan kembali tangan secara refleks dari rangsangan yang berbahaya, merupakan suatu reaksi perlindungan. Refleks ekstensor (polisinaps), rangsangan dari reseptor perifer yang dimuali dari fleksi pada anggota badan yang juga berkaitan dengan ekstensi anggota badan. Gerak refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar. Misalnya, menutup mata pada saat terkena debu. Untuk terjadinya gerak refleks maka dibutuhkan struktur sebagai berikut : organ sensorik yang menerima impuls misalnya kulit. Serabut saraf sensorik yang menghantarkan impuls tersebut menuju sel-sel ganglion radiks posterior dan selanjutnya serabut sel-sel akan melanjutkan impuls-impuls menuju substansi pada kornu posterior medulla spinalis. Sumsum tulang belakang menghubungkan antara impuls menuju kornu anterior medulla spinalis. Sel saraf menerima impuls dan mengahntar impuls-impuls ini melalui serabut motorik. Organ motorik melaksanakan rangsangan karena dirangsang  oleh impuls saraf motorik.


Tubuh kita memiliki bagian tubuh yang berfungsi sebagai penerima rangsang, yaitu alat indera. Bagian tubuh ini disebut reseptor. Reseptor ini memiliki syaraf-syaraf khusus yang bisa mendeteksi rangsangan tertentu. Misalnya:rangsang cahaya pada mata , rangsang sentuhan, suhu, gesekan,  rasa sakit pada kulit ,bau pada hidung, rasa pada lidah , suara pada telinga. Setelah itu syaraf-syaraf yang disebut neuron reseptor ini akan mengirimkan sinyal listrik menuju otak. Informasi ini akan diolah sesuai kehendak kita. Kemudian otak akan mengirim respon menuju organ yang disebut efektor. Efektor meliputi : otot, kelenjar, dll. Respon yang dikirim otak ini ada yang dikirim secara otomatis, ada pula yang hanya dikirim bila kita menghendakinya. Lengkung refleks adalah unit dasar kegiatan saraf terpadu yang terdiri dari reseptor, neuron aferen, satu sinaps atau lebih, neuron eferen dan efektor. Lengkung refleks yang paling sederhana disebut monosinaptik, yang hanya mempunyai sinaps tunggal antara neuron aferen dan neuron eferen. Semua lengkung (jalur refleks) terdiri dari:

  1. Reseptor adalah ujung distal dendrit, yang menerima stimulus.
  2. Jalur aferen melintas sepanjang sebuah neuron sensorik sampai ke otak atau medulla spinalis.
  3. Bagian pusat adalah sisi sinaps, yang berlangsung dalam substansi abu-abu SSP. Impuls dapat ditransmisi, diulang rutenya atau dihambat pada bagian ini.
  4. Jalur eferen melintas disepanjang akson neuron motorik sampai ke efektor, yang akan merespons impuls eferen sehingga menghasilkan aksi yang khas.
  5. Efektor dapat berupa otot rangka, otot jantung, atau otot polos, atau kelenjar yang merespon.

Urutan perambatan impuls pada gerak refleks yaitu: Stimulus pada organ reseptor => sel saraf sensorik => sel penghubung (asosiasi) pada sumsum tulang belakang => sel saraf motorik => respon pada organ efektor. Jalan pintas pada gerak refleks yang memungkinkan terjadinya gerakan dengan cepat disebut lengkung refleks. Macam gerak refleks yaitu refleks otak dan refleks sumsum tulang belakang. Refleks otak terjadi apabila saraf penghubung (asosiasi) terdapat di dalam otak, seperti gerak mengedip atau mempersempit pupil pada saat ada cahaya yang masuk ke mata. Refleks sumsum tulang belakang terjadi apabila sel saraf penghubung terdapat di dalam sumsum tulang belakang seperti refleks pada lutut.

Baca Lainnya :  √Tumbuhan Dikotil: Pengertian, Ciri, Struktur dan Contoh

Lengkung Refleks

Gambar 1. Lengkung Refleks


Masukan ke dalam sitem saraf dapat timbul karena adanya reseptor sensorik yang mengenali bermacam-macam rangsangan sensorik. Terdapat lima jenis reseptor sensorik yang ada dalam tubuh:

  • Mekanoreseptor, yang mengenali kompresi mekanis atau peregangan pada reseptor atau jaringan yang berdekatan dengan reseptor
  • Termoreseptor, dipakai untuk mengenali perubahan-perubahan suhu, beberapa reseptor mengenali suhu dingin dan lainnya suhu panas
  • Nosiseptor (reseptor nyeri), dipakai untuk mengenali kerusakan jaringan yang terjadi, apakah kerusakan fisik atau kerusakan kimiawi
  • Reseptor elektromagnetik, dipakai untuk mengenali cahaya yang sampai pada retina mata
  • Kemoreseptor, yang dipakai untuk mengenali rasa/pengecapan dalam mulut, bau-bauan dalam hidung, kadar oksigen dalam darah arteri, osmolalitas cairan tubuh, konsentrasi karbon dioksida, dan mungkin juga faktor-faktor lainnya yang menyusun keadaan kimiawi tubuh.

Sinaps merupakan titik penghubung dari satu neuron ke neuron lainnya. Sinaps menentukan arah penyebaran sinyal saraf melalui system saraf. Beberapa sinaps dapat dengan mudah menjalarkan sinyal dari satu neuron ke neuron lainnya, sedangkan neuron yang lain lebih sukar. Sinyal yang bersifat mempermudah atau menghambat yang berasal dari daerah sistem saraf lain dapat juga mengatur penjalaran sinaps, kadangkala membuka sinaps itu untuk dapat dijalari dan pada saat lain akan tertutup. Selain itu, beberapa neuron post-sinaps dapat memberi respon bila mendapat impuls dari luar dalam jumlah yang besar, sedangkan yang lain sudah dapat memberikan respon walaupun impuls yang datang itu lebih sedikit. Jadi, kerja sinaps itu bersifat selektif, dapat menghambat sinyal yang lemah sedangkan sinyal yang lebih kuat dijalarkan, namun pada saat lain menyeleksi dan memperkuat sinyal lemah tertentu, atau juga meneruskan sinyal-sinyal ini ke segala arah dan tidak hanya ke satu arah.

Penampang melintang medula spinalis

Gambar 2. Penampang melintang medula spinalis


 Keterangan:

  1. Reseptor
  2. Neuron aferen
  3. Radiks dorsal
  4. Radiks ventral
  5. Neuron eferen
  6. Efektor
  7. Kornu posterior
  8. Kornu anterior

Otot dan tendonnya memiliki dua reseptor sensorik yang khusus, yakni: (1) kumparan otot (muscle spindle) yang tersebar di seluruh bagian perut (belly) otot dan mengirimkan informasi mengenai panjang otot atau perubahan kecepatan panjang otot menuju sistem saraf, dan (2) organ tendon golgi, yang terletak di tendon otot dan menjalarkan informasi mengenai tegangan atau kecepatan perubahan tegangan.


Bila suatu otot rangka dengan persarafan utuh diregangkan, otot akan kontraksi, respon ini disebut refleks regang (stretch reflex). Kapan pun otot diregang secara tiba-tiba, eksitasi yang timbul pada kumparan menyebabkan refleks kontraksi serabut otot rangka yang besar dari otot yang teregang dan otot-otot sinergisnya.  Secara klinis, ada suatu metode yang dieprgunakan untuk menentukan kepekaan refleks regang yakni dengan cara menimbulkan sentakan lutut dan sentakan otot lainnya. Sentakan ini dapat ditimbulkan dengan cara memukul pelan-pelan tendo patella dengan palu refleks, pukulan ini akan secara tiba-tiba meregangkan otot kuadriseps dan merangsang terjadinya refleks regang dinamik yang kemudian akan menyebabkan tungkai bawah “menyentak” ke depan. Refleks regang merupakan refleks monosinaps, karena sebuah neuron aferen yang berasal dari reseptor pendeteksi regangan di otot rangka langsung berakhir di neuron eferen yang mempersarafi otot rangka yang sama untuk menyebabkan kontraksi dan meniadakan peregangan.

Baca Lainnya :  √Jaringan Parenkim: Pengertian, Ciri, Tipe, Fungsi, Bentuk dan Struktur

Refleks menarik dan semua refleks lainnya bersifat polisinaps (banyak sinaps), karena banyak antarneuron ditempatkan pada jalur refleks, sehingga lebih banyak sinaps yang terlibat. Misalnya seseorang menginjak sebuah paku dan bukan menyentuh benda panas dengan tangannya. Timbul lengkung refleks untuk menarik kaki yang tertusuk dari rangsangan nyeri, sementara tungkai yang berlawanan secara bersamaan mempersiapkan diri untuk secara mendadak menerima seluruh beban tubuh, sehingga orang yang bersangkutan tidak kehilangan keseimbangan atau jatuh. Menekuknya lutut tungkai yang tertusuk tanpa hambatan dilaksanakan melalui stimulasi refleks otot-otot yang menyebabkan fleksi lutut dan inhibisi otot-otot yang menyebabkan ekstensi lutut. Pada saat yang sama, ekstensi lutut tungkai yang berlawanan terjadi karena pengaktifan jalur-jalur yang menyilang ke sisi korda spinalis yang berlawanan untuk secara refleks merangsang ekstensi lutut dan menghambat fleksinya. Refleks ekstensor menyilang (crossed extensor reflex) ini memastikan bahwa tungkai yang berlawanan akan berada dalam posisi untuk menerima beban tubuh sewaktu tungkai yang tertusuk ditarik dari rangsangan.

Otot skeletal dan neuron menyusun susunan neuromuskular voluntar yang secara anatomik terdiri dari:

  • Upper Motor Neuron (UMN)
  • Lower Motor Neuron (LMN)
  • Alat penghubung antara unsur saraf dan otot
  • Otot skeletal

Refleks terjadi bila:

  • Rangsangan tersebut sesuai dengan reseptornya
  • Misalnya refleks tendon di sini rangsangannya harus berupa ketokan. Refleks tendon ini tidak akan terjadi bila rangsangan berupa geseran.
  • Besarnya rangsangan harus melebihi atau sama dengan nilai ambang reseptor tersebut.

Penyebab Terjadinya Gerak Refleks

Penyebab terjadinya gerak refleks pada manusia Secara sederhana, gerak refleks adalah gerakan yang tidak di sadari. Gerakan yang melalui perjalanan impuls (rangsang) pendek dan tanpa diolah oleh otak serta, menimbulkan tanggapan dari anggota tubuh. Gerak refleks pada tubuh manusia dapat terjadi akibat hal-hal tertentu. Misalnya, gerakan saat kaget, tangan atau kaki menyetuh benda tajam, mencium bau makana enak sehingga liur keluar tanpa di sadari, gerakan pupil mata membesar dan kepala menjauh ketika telunjuk di arahkan secara tiba-tiba kearah mata dan menaarik tangan serta berteriak ketika tangan mendekati api. Contoh gerak refleks yang telah diuji dalam pengamatan kelompok kami adalah gerak refleks pada pupil mata dan tangan yang berusaha menjauh dari api. Dari hasil pengamatan serta percobaan yang dilakukan, gerak refleks memang terjadi pada teman yang menjadi objek percobaan. Jadi, penyebab terjadinya gerak refleks adalah terjadinya suatu rangsangan di bagian tubuh tertentu yang dapat berupa aroma, mengejutkan atau menyakitkan yang biasanya datang secara tiba-tiba.


Demikian Penjelasan Materi Tentang Gerak Refleks: Pengertian, Macam, Komponen, Ciri, Mekanisme dan Penyebab Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.